Satu persatu kertas terbuang, entah untuk apa kemarin.. yang aku ingat aku hanya menulis namamu namamu dan namamu...
untuk apa aku hanya berdiam tanpa tau harus apa jika kamu benar-benar sudah tak ingat
tak ingat apa yang pernah kita lakukan.....
cukup lelah, bertubi tubi aku merasakan kehilangan dan kesakitan
bukan karenamu.... tapi karena aku
aku yang masih tak mampu melepasmu....
ya memang aku bodoh
sangat bodoh dan terlalu tolol
yang tetap menggenggam cermin yang dulu kamu berikan
untuk apa? aku bertanya yang tak sepatah pun kau lontarkan jawaban untukku sore itu.
setiba malam hari dan
sejenak aku berkaca, ya memang tak seperti yang diharapkan
pipiku masih merona
aliskupun tak sedikit mengerut
bahkan bibirku tersenyum terus
aku terlalu bodoh memahami hal itu
ternyata memang kamu tak pernah mencintaiku
sama sekali tidak pernah bahkan aku yang terlalu gila nekat
tetap terus mencintaimu sampai kapanpun
Cinta apa ini
Translate
Selasa, 01 Juli 2014
Kamis, 26 Juni 2014
Belajar Melupakan
Ceritanya memang tak seindah mimpi.
Aku berusaha untuk tetap menjadi kuat, saat angin yang berusaha menumbangkan kakiku...
aku memang lelah, tapi rasa itu seakan lenyap
di depan ku sudah ada yang menanti di sana...
aku harus cepat berlari dan menghampirinya.........
Aku berusaha untuk tetap menjadi kuat, saat angin yang berusaha menumbangkan kakiku...
aku memang lelah, tapi rasa itu seakan lenyap
di depan ku sudah ada yang menanti di sana...
aku harus cepat berlari dan menghampirinya.........
Kala itu langit yang mencintai bumi telah menyelimutinya dengan angin kegelapan malam, tak ada yang bisa menghalanginya. tapi terdengar gemercik air yang ingin mengusik ketenangan bumi malam ini. Aaahh... masa bodo akan hal itu. yang jelas bumi masih dengan posisi nyamannya. Dalam pelukkan hangat langit dan dinyanyikan oleh suara hujan.
Tapi tak dengan ku, aku hela nafas panjang dan dalam. Menoleh keluar jendela mungil tertutup embun malam itu. Apa yang aku fikirkan malam ini? desahkan. Ku raih handphone yang sudah jadul itu. ya seperti biasa, tak ada ucapan selamat malam, tak ada kecupan lewat pesan singkat, dan tak ada senyuman. suaranya membuatku mengeluh. Dingin dan ingin berteriak. Tak seperti biasanya malam ini kegelisahan itu mengurungku dalam kamar yang tidak terlalu besar. Seperti terpenjara, entah milik siapa cinta ini.
Tangisanku sudah tak berarti, kering dan telah menjadi kerak diatas sarung bantal putih. tetap saja begitu, tak ada yang bisa mengerti perasaanku. Rasanya kalut. entah ada apa dengan diriku ini? sakau? bukan! ini lebih dari sakau. ingin berteriak seperti terbungkam mulut dan pita suaraku robek, ingin mencabik seperti tubuhku terantai bola besi yang besar.
Rasanya berbeda saat sosoknya masih dapat merangkul tubuhku tangannya dapat mengusap air mataku, bahunya pun dapat menopang kepalaku, bahkan semua yang dulu aku pernah rasakan kini telah lenyap. ingin terbahak, tertawa melepaskan semua kegelisahan. tapi aku salah! tetap saja air mata yang mengucur. oh lemahkan aku untuk mesalah ini? sudah banyak waktu ku terkuras mengukir satu persatu kenangan - kenangan yang susah sekali aku buang. aku bergejolak cinta. diantara benci dan cinta. mungkin diriku munafik. susah untuk menerima bahwa aku masih mencintaimu.
Langganan:
Komentar (Atom)